Wisata Pengamatan Burung di Lore Lindu

Home | Artikel dalam Bahasa Indonesia | Hubungi Kami | Pasang Iklan
Purple-bearded Bee-eaterBurung Pemakan Lebah Janggut Ungu
Dark-eared MyzaBurung Myza Telinga Gelap

Baca juga

Lore Lindu adalah nama sebuah taman nasional di Sulawesi Tengah. Saya mengunjunginya bulan September yang lalu saat sedang memandu wisatawan Taiwan bersama-sama dengan kawan Idris yang ingin menikmati kegiatan pengamatan burung. Kami terbang dari bandara Sultan Hasanuddin di Maros Provinsi Sulsel ke lapangan udara Mutiara SIS Al-Jufrie di kota Palu.

Punky dan Zein dari Tim VIT telah menunggu kami di terminal kedatangan penumpang. Kami selanjutnya meninggalkan kota Palu menuju Taman Nasional Lore Lindu. Setelah perjalanan berlangsung selama beberapa puluh menit, kami berhenti di sebuah jembatan. Di situ kami mencari burung Savanah Nightjar yang biasanya tidur di siang hari. Kami mencarinya di semak-semak yang tak jauh dari jembatan. Kami mendapatkannya tapi setiap kali kami mendekatinya, burung itu terbang dan mendarat lagi di tanah beberapa puluh meter dari tempat kami berdiri. Saya melihat beberapa spesies burung lain seperti Blue-tailed Bee-Eater, dan Collared Kingfisher.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Kampung Wuasa. Jarak yang harus kami tempuh cukup jauh dan lama kurang lebih tiga setengah jam. Mobil melaju menaiki gunung yang jalannya berkelok-kelok dengan tebing terjal. Ketika hari telah gelap, kami pun tiba di National Lodge. Penginapan ini cukup bagus karena setiap kamar memiliki kamar mandinya sendiri. Wisatawan yang tinggal di sana bisa menikmati sarapan pagi, makan siang dan makan malam.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali pada jam 05.00, kami berkunjung ke Danau Tambing. Di sana, kami mengamati berbagai jenis burung seperti Yellow-sided Flowerpecker, Grey-sided Flowerpecker, Ornate Lorikeet, Cerulean Cuckooshrike, Piping Crow, Fiery-browed Starling, dan Lesser Myza atau juga disebut Myza Telinga Gelap. Untuk mengamati burung-burung itu dari dekat, saya menggunakan binocular 10×42 mm dan spotting scope 20-60×60 mm. Saya juga membawa kamera D-SLR 200D yang dilengkapi dengan Lensa Telefoto Tamron 150-600mm G2. Sebagian besar wisatawan Taiwan yang bersama kami menggunakan kamera Canon dan lensa 400 mm. Ada seorang ibu yang memakai Canon SX60 HS. Untuk memilih kamera yang cocok buat pemotretan burung, pembaca dipersilahkan lihat artikel: Kamera Untuk Memotret Burung

Di siang hari, kami masih juga melakukan pengamatan burung di sekitar Danau Tambing tetapi di sepanjang jalan raya. Di sana kami lihat Sulawesi Thrush, Sulawesi Drongo, Slender-billed Cuckoo Dove, dan Knobbed Hornbill. Saat matahari terbenam, iring-iringan mobil membawa kami menuruni Tanjakan Sedoa menuju Kampung Wuasa. Di sana kami berhenti di sebuah kebun kakao. Kami berhasil melihat Sulawesi Scops Owl di situ. Karena suasana di sekitar telah gelap, kami pun kembali ke Penginapan Nasional.

Hari berikutnya, kami berangkat pagi hari sekali pada jam 04.30. Lokasi yang kami tuju adalah pertigaan Tanjakan Anaso. Kami memanggil burung Cinnabar Boobok tetapi burung tersebut hanya mendekat sebentar lalu terbang lagi. Saat waktu menunjukkan pukul 06.00, kami mulai mendaki Anaso. Tanjakannya tidak terlalu terjal namun panjang sekali. Ada banyak burung yang berhasil kami lihat di sana antara lain Hylocitrea, Geomalia, Snowy-browed Flycatcher, Citrine Cannary Flycatcher, Purple-bearded Bee-eater, Satanic Nightjar. Di kawasan ini ada banyak burung endemik Sulawesi yang berhasil kami lihat dan foto.

Selama keliling Lore Lindu dan Palu, saya dan para wisatawan dari Taiwan tersebut mengalami gempa bumi dahsyat. Kami sempat tidur 1 malam di bandara Mutiara SIS Al-jufri dan berhasil terbang lagi ke Makassar dan terus ke Manado untuk melanjutkan tur keliling Sulawesi Utara.

Booking

Jika Anda tertarik untuk berkunjung ke Lore Lindu dan membutuhkan saya (Charles Roring), untuk mengatur perjalanan Anda ke sana, silahkan menghubungi saya lewat email ke: peace4wp@gmail.com atau whatsapp ke: +6281332245180.