Dua Belas Pasang Mata

Twenty-four Eyes melacak pertumbuhan 12 anak lugu (7 perempuan dan 5 laki-laki) dari masa kecil hingga dewasa lewat hubungan mereka dengan seorang guru muda. Kisah yang mengharukan. Masa muda yang naif di era Jepang yang porak poranda setelah kalah perang berbenturan dengan dengan cerita yang jujur. Kisah yang menarik tentang akibat-akibat dari peperangan di daerah terpencil.

Twenty Four Eyes - Dua Belas Pasang Mata Karya Sakae Tsuboi
Beli

Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dua belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorakporandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Cerita tentang bagaimana seorang guru mencintai pekerjaannya dan mencintai orang-orang di sekitarnya.

Sakae Tsuboi menulis buku ini merujuk pada - Shodoshima - sebuah pulau di antara Shikoku dan Honshu - pulau utama Jepang. Pembaca bisa mengetahui banyak hal tentang keseharian masyarakat Jepang pada masa itu.

novelis dan penyair Sakae Tsuboi

Tentang Penulis

Sakae Tsubosi (5 Agustus 1899 - 23 Juni 1967) adalah seorang novelis dan penyair. Ia lahir di Kampung Sakate (sekarang bagian dari kota Shōdoshima di Kagawa Prefecture. Dia menyelesaikan sekolah selama 8 tahun dan selanjutnya bekerja di kantor pos dan balai kota. Di tahun 1925, di usia 26 tahun, dia pindah ke Tokyo dan menikah dengan Shigeji Tsuboi.

Karir

Setelah menerbitkan karya perdananya Daikon no Ha (Radish Leaves) di tahun 1938, dia rajin menulis dan memenangkan sejumlah penghargaan, salah satunya dari Menteri Pendidikan untuk Seni Rupa. Di tahun 1954, sutradara Keisuke Kinoshita membuat film yang diadaptasi dari novelnya tahun 1952, Nijushi no Hitomi (Twenty Four Eyes), hal ini mengakibatkan nama Shodoshima menjadi terkenal di setiap keluarga Jepang. Di tahun 1967, dia dijadikan sebagai warga kehormatan dari Uchinomi Kagawa sebelum akhirnya meninggal pada tahun yang sama di usia 67.

Beberapa Karyanya yang Penting